USD/IDR: Rupiah Dekat Rekor Lemah di Rp17.408, Pasar Tunggu PMI, JOLTS, dan Arah The Fed

  • Rupiah bergerak di Rp17.408 per Dolar AS menjelang sesi Amerika masih berada dekat area terlemahnya.
  • JISDOR BI naik ke Rp17.425 per Dolar AS, menegaskan tekanan Rupiah mulai tercermin pada kurs acuan.
  • PDB Indonesia tumbuh kuat secara tahunan, tetapi kontraksi kuartalan, kebutuhan valas musiman, harga minyak tinggi, dan data AS yang kuat masih membatasi ruang pemulihan.

Rupiah masih berada di bawah tekanan pada perdagangan terbaru. Mengacu data real-time, pasangan mata uang USD/IDR naik 57 poin atau 0,33% ke Rp17.408 per Dolar AS menjelang sesi Amerika, setelah bergerak dalam rentang Rp17.363-Rp17.445. Pergerakan ini menunjukkan Rupiah masih diperdagangkan dekat area terlemahnya, meski sempat sedikit menjauh dari puncak tekanan dalam perdagangan harian.

Tekanan tersebut juga tercermin pada kurs acuan Bank Indonesia. JISDOR 5 Mei 2026 tercatat di Rp17.425 per Dolar AS, melemah dari Rp17.368 pada 4 Mei. Kenaikan JISDOR menegaskan bahwa pelemahan Rupiah tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi juga mulai masuk ke kurs referensi BI, sejalan dengan kuatnya permintaan Dolar AS di tengah risiko eksternal.

PDB Solid, tetapi Bantalan untuk Rupiah Terbatas

Dari sisi domestik, data PDB Indonesia kuartal I memberi bantalan terbatas bagi Rupiah. Ekonomi tumbuh 5,61% YoY, melampaui konsensus 5,3%, tetapi secara kuartalan masih terkontraksi 0,77% QoQ.

Tekanan terutama datang dari koreksi belanja pemerintah, pelemahan investasi tetap, serta turunnya ekspor dan impor. Sejumlah sektor utama, seperti pertambangan, manufaktur, konstruksi, dan transportasi, juga melemah. Kondisi ini membuat pasar tetap berhati-hati dalam menilai daya tahan ekonomi domestik, meski pertumbuhan tahunan masih terlihat kuat.

Kebutuhan Valas dan Harga Energi Menambah Beban

Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah turut dipengaruhi faktor musiman, terutama meningkatnya kebutuhan valas pada musim haji dan periode pembayaran dividen kuartal II. Mengutip Katadata, Airlangga Hartarto menyebut pemerintah dan Bank Indonesia menyiapkan sejumlah langkah, termasuk penguatan kerja sama currency swap dengan beberapa negara, untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS.

Di sisi eksternal, ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz masih menjadi sumber risiko utama. Project Freedom belum sepenuhnya memulihkan arus pelayaran, sementara Brent masih bertahan di sekitar US$113-114 per barel. Bagi Indonesia, harga energi yang tinggi dapat memperbesar risiko inflasi impor, menambah tekanan subsidi, dan meningkatkan kebutuhan valas untuk impor migas. Meski surplus dagang Maret melebar, kenaikan biaya impor BBM berpotensi mempersempit ruang surplus ke depan.

Data AS Menjaga Daya Tarik Dolar

Dari Amerika Serikat, Pesanan Pabrik Maret naik 1,5%, melampaui konsensus 0,5% dan angka sebelumnya 0,3% setelah revisi. Data ini memperkuat sinyal bahwa ekonomi AS masih memiliki daya tahan.

Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams menilai kebijakan moneter AS masih berada di posisi tepat di tengah ketidakpastian. Ia memprakirakan inflasi berada di sekitar 3% tahun ini sebelum kembali ke target 2% pada 2027. Kombinasi data AS yang kuat dan sikap The Fed yang tetap hati-hati berpotensi menjaga daya tarik Dolar AS.

Pasar Menunggu PMI Jasa ISM dan JOLTS

Fokus pasar malam ini tertuju pada PMI Jasa ISM April yang diprakirakan turun ke 53,7 dari 54, serta lowongan kerja JOLTS Maret yang diproyeksikan naik tipis ke 6,83 juta dari 6,82 juta. Investor juga akan mencermati komponen harga, ketenagakerjaan, pesanan baru sektor jasa, rilis PMI Gabungan S&P Global, serta pidato pejabat The Fed, Bowman dan Barr, untuk membaca arah Dolar AS berikutnya dan dampaknya terhadap Rupiah.

Indikator Ekonomi

PMI Jasa ISM

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa dari Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor jasa AS, yang merupakan sebagian besar perekonomian. Indikator ini diperoleh dari survei terhadap eksekutif pasokan di seluruh Amerika berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa perekonomian jasa secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas sektor jasa secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sel Mei 05, 2026 14.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 53.7

Sebelumnya: 54

Sumber: Institute for Supply Management

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan kondisi sektor jasa AS saat ini, yang secara historis menjadi kontributor PDB yang besar. Data di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas ekonomi sektor jasa. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan biasanya membantu USD mengumpulkan kekuatan melawan mata uang utama lainnya. Selain PMI utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar juga diawasi ketat oleh investor karena memberikan wawasan yang berguna mengenai keadaan pasar tenaga kerja dan inflasi.


Minyak: Harga Lebih Tinggi, Tekanan Margin Terbatas – UBS

Kepala Ekonom UBS Paul Donovan mencatat bahwa pasar Minyak menunjukkan reaksi yang terbatas terhadap laporan pertukaran AS–Iran di Teluk, karena para investor sudah memperhitungkan optimisme AS sebelumnya dan lebih fokus pada komentar-komentar Iran.
مزید پڑھیں Previous

Emas Kehilangan Momentum Kenaikan saat Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat di Tengah Ketegangan AS-Iran

Emas (XAU/USD) stabil pada hari Selasa namun kurang memiliki momentum naik seiring dengan meningkatnya ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama setelah eskalasi yang diperbarui di Timur Tengah, yang terus memicu kekhawatiran inflasi yang didorong oleh energi.
مزید پڑھیں Next