USD/IDR: Rupiah Stabil di Rp17.630 saat DXY Melemah, Cadev RI Naik ke US$146,5 Miliar
- Kurs Rupiah: Bertahan di Rp17.630 per Dolar AS pada Senin, tidak berubah dari penutupan Jumat, sementara JISDOR naik ke Rp17.653.
- DXY turun ke sekitar 98,95, membantu menahan tekanan dari NFP AS yang kuat dan meningkatnya kembali taruhan kenaikan suku bunga The Fed.
- Cadangan devisa Indonesia naik ke US$146,5 miliar, sementara OCBC menilai sikap BI yang mengutamakan stabilitas mendukung Rupiah meski minyak dan imbal hasil global tetap menjadi kendala.
Rupiah Indonesia (IDR) bertahan terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Senin, dengan USD/IDR ditutup di Rp17.630, tidak berubah dari penutupan Jumat, sementara JISDOR Bank Indonesia (BI) naik ke Rp17.653 dari Rp17.636. Rupiah menghadapi tekanan dari kembali meningkatnya taruhan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah NFP AS jauh lebih kuat dari prakiraan dan harga minyak yang tetap tinggi, tetapi pelemahan Indeks Dolar, kenaikan cadangan devisa Indonesia, serta sikap BI yang tetap memprioritaskan stabilitas Rupiah membantu menahan tekanan. OCBC juga melihat dukungan jangka pendek bagi IDR, meski harga minyak dan imbal hasil global yang tinggi tetap menjadi kendala.
NFP AS Angkat Kembali Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed
Laporan tenaga kerja AS pada Jumat menunjukkan Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus bertambah 162 ribu, jauh di atas prakiraan sekitar 56 ribu dan menjadi kenaikan terbesar dalam lima bulan. Tingkat pengangguran tetap di 4,1%, sementara pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi 3,1% dari 3,2%. Data tersebut kembali memperkuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September, dengan pasar pada Senin memperkirakan probabilitas sekitar 57%.
Dolar AS melemah pada sesi Eropa meski data tenaga kerja AS kembali meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga The Fed. Indeks Dolar (DXY) turun sekitar 0,21% ke 98,95, menunjukkan tekanan terhadap Greenback masih bertahan. Kondisi tersebut membantu membatasi tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk Rupiah.
Risiko lain datang dari harga minyak. Brent berada di sekitar US$96,19 per barel pada Senin dan masih dekat level tertinggi enam pekan di US$97,93, setelah ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat dan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz menurun. Harga minyak yang tinggi tetap menjadi risiko bagi Rupiah karena dapat menambah tekanan terhadap kebutuhan valuta asing dan posisi eksternal Indonesia.
Cadangan Devisa Naik ke US$146,5 Miliar
Dari dalam negeri, BI melaporkan Cadangan Devisa Indonesia pada akhir Agustus naik menjadi US$146,5 miliar dari US$145,3 miliar pada Juli. Kenaikan tersebut terutama berasal dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri dan kebijakan stabilisasi Rupiah oleh BI. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Christopher Wong dari OCBC sebelumnya menilai pelemahan Dolar AS dan penurunan imbal hasil Treasury AS telah memberikan dukungan jangka pendek bagi Rupiah. Ia juga menyoroti pesan Gubernur BI Destry Damayanti yang tetap menempatkan stabilitas Rupiah dan kondisi makro sebagai prioritas sambil mendukung pertumbuhan melalui bauran kebijakan yang lebih luas.
“Bersama dengan pullback pada imbal hasil UST dan Dolar AS yang lebih lemah, hal ini seharusnya memberikan dukungan jangka pendek bagi IDR,” kata Wong. Namun, ia memperingatkan bahwa harga minyak yang tinggi dan imbal hasil global yang masih tinggi tetap menjadi kendala bagi Rupiah.
USD/IDR Bertahan Dekat Support 17.620
Secara teknis, OCBC menempatkan support terdekat USD/IDR di 17.620, tidak jauh dari level penutupan Senin di 17.630. Jika level tersebut ditembus, support berikutnya berada di 17.444, sementara resistance berada di 17.710 dan kemudian 17.800.
Perhatian pasar selanjutnya beralih ke sejumlah data domestik dan AS. Dari Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus dijadwalkan 9 September, disusul Penjualan Ritel Juli pada 10 September. Dari AS, pasar akan mencermati Indeks Harga Produsen (PPI) Agustus pada 10 September dan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada 11 September, yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed menjelang pertemuan pertengahan bulan.
Indikator Ekonomi
Penjualan Ritel (Thn/Thn)
Data Penjualan Ritel, dirilis oleh Statistik Indonesia, mewakili total pembelian konsumen dari toko ritel. Ini memberikan informasi berharga tentang pengeluaran konsumen yang merupakan bagian konsumsi dari PDB. Meningkatnya penjualan ritel menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Namun, jika kenaikannya lebih besar dari perkiraan, mungkin inflasi.
Baca lebih lanjut