USD/IDR: Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.795, BI Perbesar Insentif Lindung Nilai
- Kurs Rupiah menguat 55 poin atau 0,31% ke Rp17.795 per Dolar AS pada hari ini, setelah ditutup di Rp17.850 pada perdagangan sebelumnya.
- Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% sekaligus memperbesar insentif lindung nilai untuk menarik investasi asing dan menjaga stabilitas Rupiah.
- Dolar AS masih ditopang prospek pengetatan lanjutan The Fed, sementara investor menantikan rilis awal PMI AS dan pidato pejabat The Fed pada Rabu malam.
Rupiah berbalik menguat terhadap Dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 23 September 2026, ketika Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya sekaligus memperbesar insentif lindung nilai untuk menarik modal asing. Kurs Rupiah berakhir di Rp17.795 per Dolar AS, menguat 55 poin atau 0,31% dari penutupan Selasa di Rp17.850, sementara kurs referensi JISDOR BI tercatat di Rp17.803. Meski berhasil kembali ke bawah Rp17.800, Rupiah masih menghadapi tekanan dari penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke 100,79 dan prospek kenaikan suku bunga lanjutan The Fed. Investor kini menantikan rilis PMI AS dan pidato pejabat The Fed pada Rabu malam, serta perkembangan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
BI Perkuat Daya Tarik Investasi Asing di Tengah Tekanan Rupiah
Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% pada pertemuan 22–23 September dibarengi dengan langkah memperkuat instrumen stabilisasi nilai tukar. Bank sentral meningkatkan insentif pengurangan premi Swap Beli Lindung Nilai dari sebelumnya 12,5% untuk seluruh tenor menjadi 15% hingga 25%, bergantung pada jangka waktu transaksi. Insentif DNDF turut diperbesar menjadi 25% untuk tenor enam bulan dan 30% untuk 12 bulan. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan daya tarik pendanaan dan investasi asing sekaligus membantu menjaga stabilitas Rupiah.
Langkah BI dilakukan ketika aliran modal asing ke pasar keuangan domestik masih terbatas. Sepanjang triwulan III 2026 hingga 21 September, investasi portofolio asing mencatat arus masuk bersih sebesar US$0,4 miliar, ditopang penerbitan obligasi global pemerintah dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh investor asing. Di tengah prospek kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang meningkat, penguatan insentif lindung nilai menjadi bagian dari upaya BI menjaga daya tarik aset Rupiah tanpa mengubah suku bunga acuannya.
Penguatan Rupiah hari ini berlangsung ketika BI terus mengoptimalkan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Meski demikian, prospek kenaikan suku bunga lanjutan The Fed masih menjadi tantangan bagi daya tarik aset Rupiah, terutama ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat dan persaingan dalam menarik modal asing semakin ketat.
Harga Minyak Mereda, Dolar AS Masih Ditopang Prospek Suku Bunga The Fed
Dari pasar global, harga minyak turun lebih dari 2% pada Selasa setelah muncul kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan pembicaraan dengan AS. Brent turun ke bawah US$100 per barel sehingga meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan risiko inflasi global. Bagi Indonesia, penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan biaya impor energi apabila berlanjut.
Namun, penguatan Rupiah masih dibayangi oleh ketahanan Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) bergerak lebih tinggi ke 100,79 pada Rabu sesi Eropa, didukung prospek pengetatan moneter lanjutan The Fed setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75–4,00% pada September. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan terbatasnya minat investor global terhadap aset negara berkembang turut menjadi tantangan bagi stabilitas Rupiah, sebagaimana disoroti BI dalam pernyataan kebijakan terbarunya.
Pergerakan USD/IDR berikutnya akan turut dipengaruhi oleh rilis awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) S&P Global AS untuk September pada Rabu malam. PMI Gabungan sebelumnya tercatat sebesar 56,0, sementara PMI Jasa dan Manufaktur masing-masing berada di 56,5 dan 53,9. Data yang lebih kuat daripada ekspektasi berpotensi menopang Dolar AS, sementara pidato pejabat The Fed Michael Barr akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya. Selain itu, investor menantikan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada 23–25 September. Perkembangan hubungan perdagangan kedua negara berpotensi memengaruhi sentimen terhadap mata uang Asia, termasuk Rupiah.
USD/IDR Gagal Tembus 17.879, Support 17.773 Jadi Perhatian
Pada grafik harian, USD/IDR kembali melemah ke 17.795 setelah mendekati resistance 17.878 dan gagal mempertahankan penguatan sebelumnya. Pasangan mata uang terdebut kini bergerak di bawah Moving Average (MA) 100 hari di 17.825, dengan support terdekat di 17.773, area yang menahan pergerakan awal September. Jika level tersebut ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju area 17.690–17.685, yang berdekatan dengan MA 20 hari dan merupakan terendah 28 Agustus.
Sebaliknya, pemulihan USD/IDR perlu menembus MA 100 hari di 17.824 sebelum kembali menguji resistance di tertinggi hari ini 17.878, disusul tertinggi awal Agustus di sekitar 17.934, kemudian support 3 Agustus yang kini menjadi resistance di 17.986. Relative Strength Index (RSI) berada di 54,48, masih di atas level netral 50, tetapi mulai menurun setelah pemulihan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR mulai melemah, meskipun tekanan jual belum sepenuhnya mendominasi.
