USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.875 meski DXY di Atas 102, Cadangan Devisa RI Tetap Tinggi

  • Kurs Rupiah menguat 0,08% ke Rp17.875 per USD pada Rabu dan telah naik sekitar 0,11% sejak awal pekan, meski DXY kembali berada di atas 102.
  • Cadangan Devisa Indonesia tetap tinggi di US$146,3 miliar pada akhir September, hanya turun tipis dari US$146,5 miliar pada Agustus.
  • Kenaikan imbal hasil Treasury AS dan harga Brent di atas US$101 membatasi penguatan Rupiah, sementara pasar tetap melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember.

Rupiah Indonesia (IDR) melanjutkan penguatan terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, dengan ditutup di Rp17.875 per USD, naik 15 poin atau sekitar 0,08% dari penutupan Selasa di Rp17.890. Sejak awal pekan, Rupiah telah menguat sekitar 0,11% dari Rp17.895 pada Senin. Penguatan bertahan di tengah tekanan eksternal yang kembali meningkat pada sesi Eropa, ketika Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di atas 102 dan imbal hasil Treasury AS berbalik naik.

Data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan Cadangan Devisa Indonesia berada di US$146,3 miliar pada akhir September, turun tipis dari US$146,5 miliar pada Agustus. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta tetap jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. BI menyebut perkembangan cadangan devisa dipengaruhi oleh transaksi pemerintah, pembayaran utang luar negeri, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah.

DXY dan Imbal Hasil Treasury AS Kembali Naik

Imbal hasil Treasury AS yang kembali naik turut membebani Rupiah, dengan tenor 10 tahun bergerak di sekitar 5,31% dan tenor 2 tahun di 4,82%. Kenaikan tersebut berbalik dari penurunan pada sesi sebelumnya yang sempat menekan Dolar AS. Ahli Strategi Rabobank Molly Schwartz sebelumnya mencatat bahwa pelemahan imbal hasil di sepanjang kurva telah membebani USD, meski DXY tetap bertahan di sekitar 102.

Lemahnya Nonfarm Payrolls (NFP) September yang hanya bertambah 29 ribu, jauh di bawah prakiraan 90 ribu, telah menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Data tenaga kerja AS semalam menunjukkan rata-rata empat minggu Perubahan Ketenagakerjaan ADP naik tipis menjadi 23,75 ribu dari 22,5 ribu, tetapi indikator tersebut belum cukup kuat untuk mengubah pandangan pasar. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober kini berada di sekitar 19,4%, turun dari 37,6% sepekan sebelumnya. Namun, probabilitas kenaikan pada Desember masih sekitar 86%.

Sejumlah pejabat The Fed masih menunjukkan sikap hati-hati terhadap inflasi, dengan Mary Daly dan Jeff Schmid menyoroti risiko tekanan harga yang dapat mempertahankan kebutuhan pengetatan lebih lanjut. Rabobank memprakirakan satu kenaikan lagi pada Desember sebelum The Fed mempertahankan suku bunga sepanjang 2027.

Harga minyak juga menjadi hambatan bagi mata uang Garuda setelah kembali menembus US$100 per barel. Kontrak berjangka Brent menguat 0,60% ke US$101,18 di sesi Eropa. Bersamaan dengan DXY yang bertahan di atas 102 dan imbal hasil Treasury AS yang kembali naik, kenaikan harga minyak membatasi penguatan Rupiah, meski Cadangan Devisa Indonesia yang tetap tinggi memberi dukungan dari sisi domestik.

Selanjutnya, pasar akan mencermati risalah rapat FOMC untuk melihat arah perdebatan mengenai suku bunga di antara pejabat The Fed. Dari Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen September akan dirilis Kamis setelah berada di 118,5 pada Agustus, disusul Penjualan Ritel Agustus pada Jumat yang sebelumnya tumbuh 1,1% secara tahunan.

USD/IDR Masih Sideways di 17.860–17.932

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Dari perspektif teknis, pasangan mata uang USD/IDR masih bergerak sideways dalam rentang 17.860–17.932 setelah kenaikan pada akhir September tertahan di bawah level psikologis 18.000. Pasangan mata uang ini berada di sekitar 17.877 dan masih di atas garis tengah Bollinger Band di sekitar 17.814. Relative Strength Index (RSI) berada di 53,87, menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR mulai mereda tetapi belum membentuk tekanan bearish yang kuat.

Di sisi atas, 17.932 (tertinggi 2 Oktober) menjadi resistance terdekat, disusul level psikologis 18.000, batas atas Bollinger Band di sekitar 18.066, dan 18.090 (tertinggi 28 Juli). Sementara itu, penembusan di bawah support 17.860 (terendah 30 September) dapat membawa USD/IDR menuju area 17.814–17.795 (batas tengah Bolinger Band dan terendah 23 September), kemudian MA 100 periode di sekitar 17.735. Selama 17.860–17.932 belum ditembus secara meyakinkan, pergerakan terbatas dalam rentang tersebut masih menjadi skenario utama.

Yen Jepang Naik dari Posisi Terendah di Tengah Komentar Hawkish dari Sato BoJ

Yen Jepang (JPY) mencatat kenaikan tipis terhadap Dolar AS (USD) pada hari Rabu.
Mehr darüber lesen Previous

Cadangan Devisa (Bln/Bln) Singapura September Dicatat di 433.4B Mengungguli Prakiraan 0B

Mehr darüber lesen Next